HEAVENOUS

Tipu Muslihat Iblis Dalam Tradisi

Posted on: February 23, 2015

Shalom! Yesaya 8:19 berkata “Dan apabila orang berkata kepada kamu: “Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit,” maka jawablah: “Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?”” Secara umum kepercayaan tradisional Tionghoa memntingkan ritual penghormatan kepada leluhur yang dikultuskan karena memiliki jasa besar sehingga dianggap sebagai dewa-dewi, yang mana sumber kepercayaan mereka berasal dari berbagai jenis kepercayaan yang tidak bersumber dari Alkitab. Dewa dewi yang terkenal sudah mendapat gelar BODHISATVA SATYAKALAMA. Upacara sembahyang para leluhur berasal dari pencampuran berbagai kebudayaan dengan tujuan menyembah para dewa dan orang mati, jika tidak…maka dicap sebagai anak yang tidak berbakti kepada leluhur. Mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal bisa dipanggil ke bumi lagi (spiritisme), juga mengirimkan ‘barang-barang’ tiruan yang dianggap dibutuhkan para leluhur di dunia lain. Tetapi diatas itu semua, kuasa Tuhan Yesus terlalu dahsyat karena Roh Allah lebih besar dari pada segala roh yang ada di dunia ini. Jadi, bagaimana sikap kita terhadap upacara sembahyang ini? Sebagai orang Kristen, kita wajib menghormati orang tua selama mereka masih hidup bukan menyembahyangkan mereka ketika telah meninggal. Ketika kita bertobat dan hidup bagi Tuhan Yesus, berjalanlah dengan iman dan jangan pernah percaya lagi ataupun kembali kepada kehidupan kita yang lama. Kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus tanpa kompromi sedikitpun dengan tradisi kepercayaan/kebudayaan yang bertentangan dengan Alkitab. Ayub 7:9 berkata “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.” Lukas 16:26 berkata “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Tidak ada lagi hubungan antara orang yang masih hidup dengan roh orang yang sudah mati. Hal-hal ‘supranatural’ yang sering kita saksikan yang mengatasnamakan ‘roh orang mati’ sebenarnya adalah manifestasi roh jahat yang hendak menghasut kita, bukan roh orang yang telah mati; karena roh orang yang telah mati telah ditempatkan di firdaus atau di hades. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh melakukan penyembahan di depan peti jenazah (pai). Bagaimanapun alasannya, lebih baik kita ditolak orang karena tidak mau mengikuti tradisi dari pada ditolak Tuhan karena mengikuti tradisi. “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”” (Matius 4:10) Hal tersopan yang seharusnya kita lakukan ketika kita melayat orang yang meninggal adalah menghormati pihak keluarga yang masih hidup dan melihat jenazah untuk terakhir kalinya tanpa menyembahnya ataupun memakan makanan yang sudah disembahyangkan. “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” (1 Korintus 6:12) Satu-satunya cara penginjilan terbaik yang kita lakukan bagi keluarga kita yang bukan Kristen adalah menjadi saksi, bukan hanya pandai bersaksi melalui mulut semata. Apakah orang Kristen boleh merayakan imlek? Jika dilihat dari segi sosial budaya (sifat kekeluargaan, berbagi angpao) tentu saja boleh dirayakan, karena hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Namun, jika dilihat dari segi religius tentu saja imlek tidak boleh kita rayakan karena sebagai orang Kristen, kita hanya percaya kepada Tuhan Yesus bukan dewa-dewi yang lain. Segala hal yang mengandung unsur-unsur magis/kepercayaan kepada hal-hal selain Tuhan Yesus dalam perayaan imlek tidak boleh kita ikuti.

Category

%d bloggers like this: