HEAVENOUS

Keputusan Ditengah Goncangan

Posted on: February 9, 2015

Shalom!
Tahun pelipatgandaan mujizat tak lepas dari pelipatgandaan goncangan karena tak ada mujizat tanpa goncangan. Mujizat tidak dapat dilakukan oleh manusia, tetapi hanya oleh Tuhan. Hagai 2:6 berkata “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat” Ibrani 12:26b berkata “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Bagi orang yang tidak percaya Tuhan…semakin lama, dunia semakin penuh dengan ketidakpastian namun bagi kita sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa semua ini adalah tanda-tanda menjelang kedatangan Tuhan yang keduakalinya. Rut 1:1-6 berkata “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.” Bethlehem artinya rumah roti. Bethlehem seharusnya menjadi tempat yang penuh berkat namun kenyataannya kelaparanlah yang melanda kota itu, hal itu dikarenakan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-Hakim 21:25) – Firman Tuhan tidak dijadikan standar kehidupan sehingga Tuhan menghukum kota tersebut dengan bencana kelaparan. Nama ‘Elimelekh’ berarti Allahku adalah Raja, sedangkan ‘Naomi’ berarti manis, menyenangkan, menggembirakan. Namun, mengapa hidup mereka penuh dengan kepahitan? Karena Elimelekh mengambil keputusan untuk menghindari bencana kelaparan dengan pindah ke daerah Moab tanpa bertanya terlebih dulu kepada Tuhan apakah hal tersebut berkenan kepada Tuhan atau tidak. Keputusan seorang kepala rumah tangga sangat fatal bagi masa depan keluarganya, karenanya setiap keputusan kita harus sesuai dengan Firman Tuhan. Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Elimelekh dan keluarganya adalah:
1) Jangan mengandalkan kemampuan dan kehebatan kita, tetapi andalkan Tuhan saja. Yeremia 17:7 berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
2) Jangan jauh-jauh dari Tuhan disaat goncangan, tetapi kita harus semakin mendekat kepada-Nya memohon petunjuk-Nya. Yeremia 17:5 berkata “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
3) Menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan. 1 Samuel 30:6 berkata “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Tetaplah setia kepada Tuhan ditengah goncangan, percayalah ada mujizat dibalik setiap goncangan.

Category

%d bloggers like this: