HEAVENOUS

Perbedaan Itu Wajar

Posted on: February 4, 2015

Shalom!
Tuhan sedang membentuk kita dalam suatu proses menjadi umat yang layak bagi-Nya dalam segala keadaan, demikianlah pelipatgandaan mujizat digenapi dalam hidup kita yaitu jika kita rela diproses menjadi semakin serupa dengan-Nya. Perselisihan menyebabkan keretakan hubungan antar sesama, bahkan meskipun mereka telah saling mengenal cukup lama. Perselisihan memang hal yang normal karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda, bahkan saudara kembar sekalipun. Mari kita belajar dari Paulus dan Barnabas! Kisah Para Rasul 15:36-41 berkata “Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.” Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.” Paulus yang memiliki hati misionaris, hatinya begitu menggebu-gebu untuk memberitakan Injil kepada semua orang, Paulus suka mengajar. Sedangkan Barnabas bisa disebut orang ‘back stage’, ia sering melerai orang-orang yang berselisih, ia adalah tipe orang yang sedikit bicara tetapi banyak bekerja. Paulus dan Barnabas adalah dua orang dengan karakter yang berbeda. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7) Ketika kita saling mempertahankan pendapat tanpa mau bermusyawarah, maka terjadilah perselisihan. Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk tenang. Saling toleransi, saling mengerti dan menghargai sesama adalah sikap yang harus kita miliki agar perselisihan tidak terjadi. Perlu kerendahan hati untuk menyelesaikan perselisihan, karena perselisihan yang dibiarkan akan mengakibatkan dendam, bahkan kepahitan yang membawa maut bagi kedua pihak yang saling berselisih. Jika kita memiliki hati yang mencari damai, kita akan mampu mentoleransi orang lain tanpa berkompromi dengan dosa. Kemajuan tubuh Kristus adalah upaya semua orang percaya dalam unity, bukan hanya beberapa orang yang terpisah-pisah. Roma 12:18 berkata “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Kita harus tetap mengasihi meskipun berbeda.

Category

%d bloggers like this: