HEAVENOUS

Krisis Keuangan Yang Datang Bersamaan Dengan Pelipatgandaan Mujizat

Posted on: February 4, 2015

  • In: Pdt. Aruna Wirjolukito
  • Comments Off on Krisis Keuangan Yang Datang Bersamaan Dengan Pelipatgandaan Mujizat

Shalom!
Prinsip orang Yahudi yang memegang perjanjian dengan Tuhan begitu fenomenal hingga mempengaruhi keadaan keuangan seluruh dunia, karena penguasa keuangan dunia adalah orang Yahudi. Sangat sulit memboikot produk-produk Yahudi karena produk-produk tersebut sebagian besar menjadi penunjang kehidupan kita. Kita memang bukan orang Yahudi namun disadari atau tidak, kita selalu terkena dampak dari apa yang dilakukan oleh orang Yahudi. Imamat 25:1-7 berkata “TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.” Tuhan menguduskan hari ke-7. Kudus dan suci itu berbeda. Suci itu berarti dibersihkan hingga tak bernoda, sedangkan kudus itu berarti dipotong, dipisahkan, diperlakukan secara berbeda sehingga memiliki hasil yang berbeda dengan orang yang tidak kudus. Hal ini berarti juga kegiatan kita di hari ke-7 harus berbeda dengan kegiatan yang kita lakukan di hari ke-1 hingga ke-6, begitu juga dengan tahun ke-7. Jika tahun ke-7 disebut tahun Sabbath, maka tahun ke-7 yang ke-7 (seventh seven, tahun ke 49) berarti tahun super Sabbath, itulah mengapa tahun ini disebut tahun double Sabbath. Kita harus berhati-hati dengan setiap perkataan kita karena suatu hari nanti kita pasti akan memakan buahnya. Krisis selalu terjadi setiap tujuh tahun karena perjanjian orang Yahudi dengan Tuhan, yaitu mereka harus memenuhi masa perhentian penuh (sabat) di tahun ke-7 sehingga ketidakproduktifan bangsa pemegang keuangan dunia tersebut berdampak pada kehidupan seluruh bangsa di dunia. 2 Tawarikh 36:12 berkata “Dengan demikian genaplah firman TUHAN yang diucapkan Yeremia, sampai tanah itu pulih dari akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya, karena tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun.” Jika kita melupakan ‘sabat’, suatu hari nanti kita akan menanggung akibatnya. Jadi, kita harus merelakan hati kita ketika Tuhan sedang ‘memproses’ kita. Lakukanlah segala sesuatunya karena Tuhan, bukan karena ‘pembuktian diri’. Bagi anak Tuhan, krisis adalah ‘pemurnian’ bagi ‘kesehatan’ kerohanian maupun jasmani kita, maka relakanlah jika kadang kita harus ‘kehilangan’ karena mungkin hal-hal tersebut bukan dari Tuhan sehingga harus dibuang; jika hal tersebut adalah bagian kita pasti akan Tuhan pertahankan bagi kita. Krisis terjadi agar ada keseimbangan antara si miskin dan si kaya, selain itu membuat kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Cara untuk menghadapi krisis, yaitu: setelah diberkati, berkat tersebut dimanfaatkan untuk membuka bisnis baru. Namun, hal tersebut berpotensi membuat kita sombong. Selain itu, di tahun ini ada jenis berkat yang mana hanya Tuhan saja yang dapat melakukannya: Tuhan yang bekerja sedangkan kita diam saja berharap pada-Nya. Inilah yang membuat kita memuliakan Tuhan. Jika kita menginginkan ‘tanah’, kita harus memegang perjanjian dengan Tuhan, Sang Empunya tanah.

Category

%d bloggers like this: