HEAVENOUS

Berpikir Seperti Kristus

Posted on: October 12, 2014

2 Korintus 3:14-18

“Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Shalom!

Hidup kita akan diubahkan serupa dengan Kristus ketika kita mengarahkan perhatian kita kepada-Nya, inilah tujuan utama kita menjadi pengikut Kristus. Ketika kita menjadikan kekristenan hanya sebagai agama, maka selubung untuk mengenal Tuhan akan menghalangi kita menjadi serupa dengan Kristus. Karenanya, kita harus membuang semua selubung yang menutupi mata rohani kita agar kita mengalami kelahiran baru dan menghidupi pengalaman yang baru bersama Tuhan. Adalah sebuah kesia-siaan menjadi orang Kristen tetapi masih saja menjalani kehidupan yang lama, biasa atau sekedar ingin masuk surga. Kita tidak akan pernah siap masuk surga jika kehidupan kita masih terpengaruh oleh aura neraka. Jadi, alasan mengapa kita mengenal Tuhan sekarang adalah karena Tuhan memiliki panggilan khusus bagi kita dan kita harus berubah dengan hidup mengenakan manusia baru. 1 Korintus 2:14 berkata “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2) Yesus adalah pribadi yang berinisiatif memulai dan mengakhiri ‘perlombaan iman’ dalam hidup kita. Mengapa Tuhan Yesus begitu bersedia menderita bagi kita? Karena pikiran-Nya tertuju kepada kemuliaan yang disediakan Allah sehingga Ia memiliki kekuatan untuk menyelesaikan tujuan-Nya menyelamatkan kita. Terkadang kita mulai lemah dan ingin menyerah di tengah jalan ketika masalah datang, itu karena kita berfokus pada hal yang salah. Perubahan hidup dimulai dari perubahan pola pikir seperti Kristus. “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6) Kita tidak akan mengalami hidup yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan jika pola pikir kita masih sama dengan pola pikir dunia. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7) Jadi, ketika kita bertindak atas dasar ketakutan berarti kita tidak memiliki pola pikir seperti Kristus.

Roma 12:1-2 berkata “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ada 3 kebenaran yang penting tentang pikiran, yaitu:

  1. Tanpa pembaharuan pikiran, kita tidak mungkin mengenal tujuan Tuhan yang sempurna. Hanya setelah kita mengalami pembaharuan pikiran barulah kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Perjumpaan yang begitu menyentuh dengan Tuhan sesaat saja tidak menjamin berubahnya hidup kita, tetapi kita harus berusaha untuk semakin mengalami pembaharuan pikiran dalam kehidupan kita selanjutnya.
  2. Setiap pengalaman hidup yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, baik itu hal baik atau buruk, bertujuan memperbaharui pikiran kita yang dikendalikan oleh kedagingan menjadi pikiran yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Mujizat besar tidak serta merta mengubah pola pikir kita “sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:52) Setiap kali kita memilih untuk mengeraskan hati kita dan menolak Firman Tuhan, maka hati kita akan semakin keras dan tidak mengalami pembaharuan pikiran seperti Kristus. Hal yang Tuhan inginkan dari setiap masalah kehidupan adalah agar kita bertindak dalam iman (taat) untuk menghadapi masalah tersebut, bukan bertindak atas dasar apa yang dilihat mata jasmani kita.
  3. Ketika Tuhan memberikan janji-Nya kepada kita, Ia mengharapkan agar pikiran kita berubah menjadi ‘selevel’ dengan pikiran-Nya. Ketika kita mengambil keputusan untuk percaya Firman Tuhan lebih dari segala pikiran kita sendiri, maka hidup kita akan diubahkan seturut rencana Tuhan yang lebih tinggi dibanding segala rencana pribadi kita. Memiliki mata yang tertuju kepada Tuhan bukanlah sekedar ‘have fun’ tetapi Tuhan ingin agar kehidupan kita berubah karena Yesus yang semakin besar di dalam diri kita.

Category

%d bloggers like this: