HEAVENOUS

Tidak Kenal Menyerah

Posted on: September 23, 2014

“Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” (Matius 15:21-28)

Ada pesan penting dari pelayanan Tuhan Yesus di Tirus dan Sidon, saat Ia melayani seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan. Melalui pelayanan-Nya di daerah tersebut, Tuhan Yesus sebenarnya sedang mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa berita keselamatan itu bukan hanya untuk bangsa Yahudi saja, tapi juga untuk bangsa-bangsa lainnya. Kembali kepada permasalahan yang perempuan Kanaan itu hadapi, kita dapat belajar tentang beberapa hal tentang perempuan ini, yang akhirnya membuat mujizat kesembuhan dari Tuhan terjadi atas anaknya.

Renungkan tiga hal berikut tentang sosok perempuan Kanaan dalam kisah ini:

  • Dia memiliki kasih. Walaupun ia adalah seoranng kafir di mata orang Yahudi, namun ia memiliki kasih atas masalah dan penderitaan yang dialami anaknya. Kasihnya mendorong ia datang mendekat dan menyembah Tuhan Yesus. Orang yang memiliki kasih, pasti suka mendekat dan menyembah Tuhan. Kasihnya membuat ia rela menerima ‘kebisuan’ Yesus, namun ia tetap memohon. Orang yang memiliki kasih, tidak gampang putus asa. Kasihnya bisa beresiko mendatangkan penderitaan akibat penolakan, namun ia tidak berhenti. Orang yang memiliki kasih, tetap mengasihi walaupun belum mendapat jawaban. Kasihnya membuat ia mampu melihat kasih sayang di balik kata-kata Tuhan. Orang yang memiliki kasih, menyadari makna dari kata-kata yang sebenarnya bukan menghina atau merendahkannya.
  • Dia memiliki iman. Imannya berumbuh saat ia mulai berkomunikasi dengan Tuhan. Diawali saat ia memanggil Yesus dengan ‘anak Daud’, sampai diakhiri dengan memanggil-Nya ‘Tuhan’. Imanlah yang mengambil peran atas mujizat yang terjadi: ‘Imanmu menyelamatkanmu’ (Lukas 7:50); ‘Imanmu menyembuhkanmu’ (Markus 5:34); ‘Jadilah padamu menurut imanmu’ (Matius 9:29).
  • Dia memiliki sikap yang teguh. Ada kemauan keras dari perempuan Kanaan ini supaya anaknya sembuh. Ia tidak mau mendapatkan jawaban ‘tidak’. Orang seperti ini tidak kenal kata menyerah. Anak Tuhan pun harus gigih dan ulet, sampai mendapat jawaban atas berbagai pergumulan dalam doa-doanya.

Jika diperhadapkan dengan masalah seperti yang dialami perempuan tersebut, bagaimana tanggapan kita? Apa reaksi kasih kita? Apa reaksi iman kita? Bagaimana dengan keteguhan hati kita?

Allah adalah kasih. Datanglah pada-Nya dengan kasih. Kasih dapat mengalahkan segalanya. Tidak ada yang lebih kuat dan lebih dekat dengan Allah, selain kasih. Tentulah masalah atau persoalan yang kita hadapi itu ada jalan keluarnya. Jangan pernah menyerah. Tetaplah percaya, maka kita akan melihat pertolongan-Nya dan mujizat-Nya terjadi: seperti halnya akhir kisah dari perempuan Kanaan tersebut.

Category

%d bloggers like this: