HEAVENOUS

Lea VS Rahel

Posted on: September 19, 2014

KEJADIAN 29:16-35 & KEJADIAN 30:1-25

Shalom!

Umat percaya adalah orang-orang yang paling berbahagia di bumi ini karena kita memiliki Firman Tuhan sebagai petunjuk kehidupan kita, maka hal-hal apapun yang terjadi dalam kehidupan kita…hadapilah sesuai dengan Firman Tuhan, kita harus lebih banyak berada dalam hadirat Tuhan juga berdoa dan berpuasa. Kita umat percaya memiliki satu DNA yang sama, yaitu DNA Kristus; namun akhir kehidupan kita bisa berbeda tergantung bagaimana kita menjalankan kehidupan kekristenan kita. Ketika kita mengalami hal yang tidak baik, belum tentu hal tersebut adalah akhir kehidupan kita. Tuhan bisa memakai semua orang dari berbagai macam latar belakang, dan Tuhan adalah Tuhan yang adil maka pastilah Ia akan membela kita jika kita menjaga hati dan kekudusan di hadapan-Nya. Tuhan melihat sikap hati, bukan salah atau tidaknya sebuah keadaan. Namun, ketika Tuhan membela kita…hendaklah kita tetap menjaga hati di hadapan-Nya dengan tetap rendah hati. Tuhan memberkati kita secara penuh, tidak setengah-setengah. Berkat Tuhan diberikan kepada kita bukan untuk membuat kita sombong tetapi untuk lebih banyak bersyukur. Berkat Tuhan bisa membuat orang mendekat kepada kita tetapi kita tidak boleh menjerat orang dengan berkat tersebut. Perhatikan sebuah pelajaran dari kehidupan Lea dan Rahel dalam menjalani kehidupan kita di tahun Ayin Hey (5775) mendatang: nilai kehidupan kita di hadapan Tuhan ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan musuh kita. Lea memang sepertinya ‘tidak baik’ di awal kisah ini, namun semakin lama imannya semakin bertumbuh kepada Tuhan; dibandingkan Rahel yang begitu ‘sempurna’ di awal kisah ini namun keadaan yang buruk begitu mempengaruhinya sehingga hidupnya semakin jauh dari Tuhan. Lea semakin mengerti bahwa berkat demi berkat yang ia terima berasal dari Tuhan dan ia semakin bersyukur karenanya, tidak seperti Rahel yang malah mengandalkan kuasa terafim (berhala) sebagai sumber berkat dalam hidupnya. “Tetapi Rahel telah mengambil terafim itu dan memasukkannya ke dalam pelana untanya, dan duduk di atasnya. Laban menggeledah seluruh kemah itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya.” (Kejadian 31:34) Percayalah bahwa ketika Tuhan memberkati kita dengan limpahnya, pasti Ia pun akan menjaga kehidupan kita, tidak membiarkan kita jatuh karena berkat tersebut. Kejadian 35:16 berkata “Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata [berkat ganda], bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar. Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: “Janganlah takut, sekali inipun anak laki-laki yang kaudapat.” Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas–sebab ia mati kemudian–diberikannyalah nama Ben-oni [anak yang tak pernah beruntung] kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. [anak kepercayaan ayah]” Yang terpenting dalam kehidupan kita bukanlah keadaannya, tetapi bagaimana kita meresponi keadaan tersebut. Terkadang kita seperti ‘kena getahnya’ dari perbuatan salah orang lain, namun percayalah bahwa itu indah bagi kita karenanya hadapilah hal tersebut dengan cara Tuhan.

Category

%d bloggers like this: