HEAVENOUS

Pengakuan Tuhan Atau Pengakuan Manusia?

Posted on: August 12, 2014

Galatia 1:10

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”

Shalom!

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, kita sedang dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Tuhan. Kita harus senantiasa berjaga-jaga dan berwaspada karena waktunya sudah sangat singkat. Pengakuan berarti perkenanan, maka ketika kita mendapat pengakuan Tuhan berarti kita mendapat perkenanan Tuhan. Pengakuan Tuhan adalah hal yang lebih penting dibanding sekedar pengakuan manusia; karenanya kita harus hidup seperti Kristus telah hidup. Matius 16:13-17 berkata “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Dari ayat tersebut kita belajar bahwa bagi Tuhan Yesus, pengakuan Bapa adalah sebuah hal yang penting bagi-Nya, begitu pula dengan kita sebagai pengikut-Nya. Pengakuan Bapa harus diatas pengakuan manusia, ketika pengakuan manusia lebih penting bagi kita maka hal itu adalah suatu kerugian besar.

Tuhan Yesus selalu melakukan kehendak Bapa dalam hidup-Nya sekalipun Ia telah diakui sebagai Anak Allah oleh manusia sehingga Ia mendapatkan perkenanan Bapa. “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”” (Matius 3:16-17) Perkenanan Tuhan tidak semata-mata ‘memudahkan’ perjalanan kehidupan Tuhan Yesus. Setelah Tuhan Yesus berkeputusan melakukan kehendak Bapa sepenuhnya untuk menyelesaikan karya keselamatan bagi umat manusia, banyak hal yang terjadi dalam hidup-Nya baik itu baik atau buruk. Hal ini demi digenapinya Firman Allah dimana segala lutut harus bertekuk dan semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.

Kisah Rasul 13:22 berkata “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Dari ayat tersebut kita belajar bahwa ketika Saul tidak taat melakukan kehendak Tuhan, maka posisinya sebagai raja Israel digantikan oleh Daud. Hal ini bukan berarti Daud tidak pernah melakukan kesalahan sehingga perkenanan Tuhan ada atasnya. Namun, ketika Daud berdosa…ia segera bertobat kepada Tuhan. Ketika kita menyenangkan hati Tuhan maka kita akan mendapatkan perkenanan Tuhan. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Kita harus menjaga hati agar hidup berkenan kepada Tuhan. Kisah Rasul 15:16-17 berkata “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,” Tuhan hendak merestorasi pondok Daud dimana kita harus memiliki keintiman dengan Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan. Proses membuat kita bernilai lebih mahal, maka janganlah kita lari dari proses tetapi hadapilah itu. Mengucap syukurlah ketika kita dalam proses, itulah yang menyenangkan hati Tuhan karena dari situlah muncul suatu karakter Kristus dalam diri kita.

“Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: “Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya. Perbekalannya akan Kuberkati dengan limpahnya, orang-orangnya yang miskin akan Kukenyangkan dengan roti, imam-imamnya akan Kukenakan pakaian keselamatan, dan orang-orangnya yang saleh akan bersorak-sorai dengan girang. Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud, Aku akan menyediakan sebuah pelita bagi orang yang Kuurapi. Musuh-musuhnya akan Kukenakan pakaian penuh malu, tetapi di atas kepalanya akan bersemarak mahkotanya.”” (Mazmur 132:13) Inilah hal yang Tuhan inginkan dari kita, yaitu berkeputusan untuk mengasihi Tuhan dan tidak kembali kepada kehidupan yang lama, mengutamakan kehendak Bapa dan hidup berkenan kepada-Nya. 1 Korintus 3:18-21 berkata “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.” Dan di tempat lain: “Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” Segala sesuatu di dunia ini harus ditaklukan kepada Allah, maka berbahagialah kita yang mengetahui hikmat Allah. “Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (1 Korintus 2:15-16) Ketika kita memiliki hikmat Tuhan, kita akan hidup lebih bijaksana juga dimampukan untuk merendahkan diri bukan meninggikan diri sendiri. “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3) Mari persiapkan diri kita untuk mencapai surga dengan selalu penuh Roh Kudus, berharap kepada Tuhan bukan manusia karena pengharapan kepada Tuhan tidak akan mengecewakan, juga mengasihi Tuhan dan sesama (Efesus 3:18-19a). Percayalah bahwa Tuhan masih mendengar dan memperhatikan kita sehingga kita tetap teguh berjalan bersama-Nya (Efesus 3:20), perbaharuilah paradigma kita seturut dengan pikiran Kristus! We live by faith. (Yohanes 3:30)

Category

%d bloggers like this: