HEAVENOUS

Kingdom Attitude – Lemah Lembut

Posted on: July 20, 2014

Shalom!

Matius 5:5 berkata “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Alkitab terjemahan lain berkata sebagai berikut: “Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan mewarisi bumi.” (Webster) “Bersukacitalah mereka yang lemah lembut karena mereka sudah dapat dipastikan akan menerima seluruh janji Allah yang memang akan diwariskan untuk hidup mereka. (GoodNews) Warisan dari seluruh janji Tuhan akan turun dalam kehidupan kita jika kita menjadi orang yang lemah lembut. Lemah lembut berasal dari kata Yunani ‘praus’ yang berarti:

1)       Takluknya keliaran kita dibawah kendali seorang tuan (Kristus). Jika kita tidak mampu menaklukan diri kita dibawah kuasa Kristus maka kualitas diri kita akan semakin buruk. 1 Timotius 1:13 berkata “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas [liar], tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” Jika kita tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh kebenaran Kristus maka keliaran diri kita akan berbicara lebih kuat dibanding Kristus. Kita harus mengisi diri dengan Firman Tuhan sehingga perlahan keliaran dalam diri kita semakin dilepaskan dan kita terbiasa untuk menjadi seorang pribadi yang lemah lembut sehingga layak mendapatkan warisan Allah. Galatia 5:16,18,21 berkata “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh [dedikasikan hidup kita kepada Tuhan], maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging [keliaran]. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Semakin kita membiarkan kedagingan berkuasa atas kita, maka kita akan semakin jauh dari kualitas seorang yang lemah lembut. Peperangan rohani terbesar ada dalam pikiran manusia, karenanya kita harus membiarkan pola pikir kita seturut dengan Firman Allah sehingga kita lebih memilih untuk hidup benar dibandingkan menuruti kedagingan kita. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16-17) Tak perlu memaksa Tuhan untuk memberkati kita ketika kita bisa menaklukan diri (menguasai diri) dibawah hukum Tuhan, pasti berkat secara otomatis akan menjadi bagian kita.

2)       Kekuatan untuk memikul beban (tekanan, aniaya, penderitaan) tanpa marah, tanpa dendam. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29) Kegagalan kita untuk menjadi lemah lembut adalah kita marah dan mendendam ketika kita memikul beban (tekanan, aniaya, penderitaan). Karenanya kita harus melatih diri untuk tidak menjadi marah dan mendendam kepada Tuhan maupun manusia ketika kita memikul ‘beban’ juga melatih diri untuk tidak menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam atas penderitaan kita. Kita harus memenangkan pikiran kita sehingga kita terbiasa berpikir yang benar dan bereaksi yang benar dalam memikul kuk. Ratapan 3:27 berkata “Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.” Jadi, tujuan Tuhan agar kita memikul kuk adalah membuat kita semakin lemah lembut dan berhak menerima kepenuhan janji Allah. Lemah lembut bukan suatu kelemahan melainkan kekuatan untuk memikul kuk tanpa marah dan dendam. Marah itu wajar karena memang bagian dari emosi manusia tetapi jangan sampai marah hingga tidak mengontrol diri. Marilah kita teladani Tuhan Yesus ketika disalib, yaitu tidak mendendam melainkan mengampuni orang-orang yang telah menyakiti-Nya.

3)       Ketenangan di jiwa yang terekspresi dalam kesabaran. Orang benar dan orang fasik sama-sama mengalami persoalan kehidupan tetapi satu hal yang membedakan mereka adalah tetap tenang dan menjadi sabar dalam tekanan. Yakobus 1:19 berkata “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Marah boleh tetapi ketika kita marah hingga lepas kendali maka kita tidak sedang mengerjakan kebenaran, dan ketika kita tidak mengerjakan kebenaran berarti kita semakin menjauhkan diri dari warisan janji Allah. Lemah lembut itu berada dalam posisi di antara marah secara ekstrim dan tidak marah secara ekstrim (acuh terhadap ketidakbenaran). Lemah lembut bukan berarti tidak pernah marah sama sekali. Jadi lemah lembut adalah bentuk dari keseimbangan manusia memahami kebenaran.

Category

%d bloggers like this: