HEAVENOUS

Kingdom Attitude

Posted on: July 20, 2014

Shalom!

Matius 5:4 berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Secara logika, tidak mungkin orang yang berdukacita itu berbahagia. Namun, Yesus mengajarkan kita agar kita menghadapi kedukaan bukan menghindarinya karena bagian akhir dari kedukaan adalah penghiburan. Kata ‘berbahagia’ bermakna ‘diberkati’, jadi milikilah pikiran Kristus yang melihat dukacita sebagai proses menuju keadaan diberkati bukannya sebagai kemalangan. Jika kita memahami hal ini, maka kita akan mengalami penghiburan dari dalam (roh) bukan hanya penghiburan di jiwa. Dukacita dimaksudkan Tuhan agar kita mengalami pembelajaran tentang makna hidup yang membuat kita semakin matang dalam menghadapi kehidupan. Dukacita diambil dari kata ‘penteo’ yang berarti:

1)      Kepedihan hati karena tragedy namun jiwa kita melekat kepada Tuhan. Hal ini maksudnya bagaimanapun pedihnya hati kita ketika berdukacita, tetapi kita tetap memilih untuk datang kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan bukannya semakin menjauh dari Tuhan. Berdasarkan 2 Raja-Raja 4:16-37, perempuan Sunem yang mengalami dukacita menunjukan imannya dengan tetap berfokus mencari Tuhan di tengah dukacita karena kematian anaknya, bagaimanapun keadaannya…ia tetap memperkatakan perkataan iman bahwa anak dan suaminya tetap selamat dan tidak menjadi kuatir akan persoalannya. Penghiburan dari Tuhan akan membuat kita memiliki reaksi semakin menunduk ketika menghadap Tuhan, ini adalah sebuah titik dimana kita bisa melihat kemahakuasaan Tuhan yang tanpa batas di atas segala permasalahan hidup kita dan semakin mengenal-Nya lebih daripada tertawa semata. Kitab Amsal berkata dalam tertawa pun hati bisa menangis, hal ini berarti bahwa tertawa bukan pertanda kebahagiaan. Menjadi dewasa selalu berkaitan erat dengan pengalaman bersama Tuhan dalam melihat dukacita sebagai berkat. Belajarlah untuk tidak bertanya ‘mengapa saya yang mengalami ini, Tuhan?’ karena dukacita akan dialami oleh semua orang yang hendak diberkati Tuhan. Jika kita semakin mencari Tuhan ditengah kedukaan kita pasti Roh kita akan semakin penuh dan melekat kepada-Nya. Di tengah dukacita hendaklah kita bertanya ‘Tuhan, ingin saya belajar apa dari permasalahan ini?’ Ayub 6:10 berkata “Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.” Bangunlah kembali paradigma yang benar sesuai Firman Allah supaya kita tidak kalah ketika menghadapi ‘peperangan’.

2)     Meratap karena merelakan kematian seseorang atau sesuatu yang kita kasihi. Markus 8:35-38 berkata “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”” Ketika kita merelakan sesuatu yang kita kasihi karena Kristus, maka kita akan mendapatkan pengharapan baru bahwa Ia akan memberikan kita hal yang lebih baik, itulah penghiburan sejati. Kegagalan kita untuk menikmati penghiburan yang bersumber dari Tuhan adalah kita tidak mau melepaskan apa yang kita cinta. Percayalah bahwa kita tidak akan kehilangan apapun kalau Tuhan yang mengambilnya dari kita, meratap boleh tetapi relakanlah…percayalah bahwa kita pasti akan menerima yang lebih baik lagi. “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” (Filipi 3:7) Lepaskanlah apa yang bukan sumber kehidupan tetapi kembalilah kepada sumber kehidupan kita, maka pastilah kita mendapatkan kepenuhan kehidupan kita.

Category

%d bloggers like this: