HEAVENOUS

Terpanggil, Terpilih, Setia

Posted on: July 9, 2014

Wahyu 17:14

“Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.””

Shalom!

                Penyesatan adalah salah satu kuasa iblis yang ingin menghancurkan kita. Persoalan boleh terjadi tetapi kita harus dengan bijaksana mengatasinya, yaitu dengan tetap berfokus kepada Tuhan Yesus Kristus. Umat Tuhan yang akan menang atas pencobaan adalah mereka yang terpanggil, dipilih dan setia. Setiap kita pasti pernah mengalami perjumpaan pribadi bersama Tuhan, itulah tandanya kita terpanggil. Kita tahu bahwa kita dipilih, yaitu ketika kita mulai berkomitmen untuk melayani Tuhan (melakukan sesuatu yang terbaik bagi Tuhan dengan menolong sesama). Setelah itu, Tuhan bermaksud untuk membentuk sebuah ‘komunitas kasih’ yang beribadah tidak berdasarkan ritual agamawi, yaitu orang-orang yang setia dimana yang fokus hidupnya hanya kepada Tuhan.

                Kita tak bisa melawan keempat hukum ini, yaitu: hukum alam, hukum hati nurani, hukum pemerintahan dan hukum Tuhan. Adalah suatu kebodohan ketika kita melanggar hukum-hukum tersebut meskipun kita tahu resiko pelanggaran tersebut, itulah pencobaan yang timbul karena kesalahan kita sendiri. Namun, ketika pencobaan terjadi meskipun kita hidup benar, maka bersyukurlah sebab hal itu terjadi untuk mendewasakan kerohanian kita.

                Kejadian 1:1-8 berkata “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.” Berdasarkan ayat tersebut, Roh Allah yang melayang-layang diibaratkan seperti induk ayam yang sedang mengerami telurnya dimana hal tersebut memerlukan suhu tertentu. Hal ini berarti ketika kita memiliki ide-ide baru untuk diwujudkan, eramilah hal tersebut di dalam hadirat Tuhan sebab segala hal yang baru datangnya dari Tuhan. Ketika Tuhan membentuk cakrawala itu seperti Seseorang yang memukul-mukul dengan palu sehingga terbentuklah sebuah kubah. Hal ini menandakan ‘sign of passion’, jadi kita harus memiliki kegairahan (semangat, optimisme, antusias) dalam hidup dan melakukan segala sesuatunya terutama dalam hal hubungan kita dengan Tuhan, kita harus kembali kepada cinta mula-mula kepada Tuhan. Hari-hari ini kita harus memiliki kegairahan dalam transformasi Indonesia ke arah yang lebih baik juga dalam penyebaran Injil ke seluruh dunia. “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”” (Matius 24:14) Kita bersemangat karena kita adalah umat yang menerima janji Tuhan.

                Kejadian 1:14-18 berkata “Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Melalui ayat tersebut, Allah menghendaki agar kita memiliki ‘value’ sehingga kita menjadi ‘tanda’ (barometer/icon) dalam pekerjaan kita, menjadi terang dan garam bagi dunia, juga menguasai waktu dan berjalan sesuai dengan kairos Tuhan. Kejatuhan manusia pertama membuat tujuan penciptaan manusia pertama bagi Tuhan berubah karena hal tersebut melepaskan ‘image’ Tuhan dalam diri manusia sehingga ‘value’ Ilahi dalam diri manusia pun hilang. Karenanya, sekarang marilah kita mengembalikan citra Ilahi tersebut ke dalam diri kita dengan menjaga kekudusan hidup dan urapan Tuhan dalam diri kita.

Category

%d bloggers like this: