HEAVENOUS

Holy Moment

Posted on: July 9, 2014

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” (1 Petrus 2:9)

Kekudusan bukanlah kewajiban sebatas ‘hamba Tuhan’ saja, namun semua orang yang menjadi murid Kristus haruslah kudus, karena itulah panggilan hidupnya. Dari setiap penciptaan di alam semesta, Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Namun, khusus ketika Allah telah menciptakan manusia, Ia melihat bahwa manusia itu sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Jadi, kita adalah ciptaan Tuhan yang paling baik (kita bukan berasal dari monyet). Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” (Kejadian 2:2-3) Hari berbicara tentang waktu. Kekudusan kita tidak tergantung hari Sabat, namun setiap waktu yang kita habiskan bersama Tuhan menjadikan kita kudus. Ketika kita berhenti dari segala aktivitas kehidupan kita dan mengkhususkan waktu istirahat tersebut bagi Tuhan, itulah saat yang kudus. Disaat itulah Tuhan memberkati kita dan menumpangkan tangan atas kita untuk memberikan kita kuasa dan otoritas Ilahi sehingga kita hidup berkemenangan di bumi ini. Perhatikan Mazmur 3:1-3 berikut: Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” S e l a” Kata ‘sela’ dalam ayat tersebut berarti berhenti sejenak dan berpikir (merenung). Ketika Daud dalam kesesakan dan begitu kacau hati dan pikirannya, Ia lebih memilih untuk berdiam diri dan menghentikan semua konflik batinnya, kemudian mencari Tuhan. Hasilnya, dapat kita lihat di Mazmur 3:4-5, yaitu: Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. S e l a” Bandingkan begitu negatifnya perasaan-perasaan Daud ketika ia belum berhenti dan memfokuskan diri pada Tuhan (ayat 2-3) dengan perasaan-perasaannya setelah ia mengalami Tuhan yang begitu penuh iman dalam menghadapi persoalan hidupnya (ayat 4-5). Itulah mengapa penting bagi kita untuk selalu bersaat teduh setiap hari dan membangun hubungan intim dengan Tuhan.

Mari kita belajar dari Musa sekarang! Selama 40 tahun Musa dibesarkan dengan segala fasilitas kerajaan Firaun, setelah itu ia berusaha menyelamatkan saudara sebangsanya dengan kekuatannya sendiri dan gagal sehingga ia harus melarikan diri dari Firaun hingga umurnya 80 tahun, namun 80 tahun kehidupannya hanya tercatat dalam Keluaran 1-2 saja. Setelah itu, Musa mulai diutus Tuhan dan sisa umur hidupnya (40 tahun hingga kematiannya) dicatat dalam banyak pasal setelah Keluaran 1-2. Hal ini menandakan bahwa ketika kita menggunakan kemampuan kita, maka hanya sedikit saja sejarah kehidupan kita yang tercatat (berarti). Namun, ketika kita mulai berserah total menjalani hidup ini sesuai tuntunan Tuhan, maka hari-hari kita begitu berarti (tercatat dalam sejarah). Perhatikan Keluaran 3:1-5 berikut, Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”” Kasut adalah hal yang sangat penting bagi seseorang yang berada di padang gurun karena pasir di gurun sangatlah panas, namun Tuhan menyuruh Musa melepaskan kasutnya ketika mendekat kepada Tuhan. Kasut menandakan segala hal yang kita andalkan untuk melindungi diri sendiri. Tuhan menghendaki kita untuk meninggalkan semua hal yang kita andalkan dalam hidup ini selain Tuhan. Ketika kita mendekat kepada Tuhan, kita harus bersedia melepaskan segalanya dan berserah (percaya total) kepada Tuhan. Keluaran 33:15-16 berkata Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?”” Berdasarkan ayat tersebut, nyatalah bahwa hadirat Tuhan yang membedakan kita dari orang yang tidak mengenal Tuhan, hadirat Tuhanlah sumber kemenangan kita, bukan keahlian, kemampuan atau pun harta kita karena di mana ada Tuhan, maka di situlah ada mujizat. Jadi, ketika kita menyediakan waktu khusus bagi Tuhan serta merelakan seluruh hidup kita bagi-Nya, maka Ia akan memakai kita secara luar biasa bagi kemuliaan-Nya.

Category

%d bloggers like this: