HEAVENOUS

Berbuat Baik, Menang, Menjadi Martir

Posted on: May 14, 2014

Kisah Rasul 10:38

“yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

Shalom!

Karena urapan Kerajaan Allah itu ada pada kita maka seharusnya ekspresi hidup kita sesuai dengan Kerajaan Allah. Tuhan itu punya kuasa mutlak untuk memerintah kita dalam seluruh aspek kehidupan. Karena Allah sang Raja Kerajaan Surga tinggal di dalam kita maka secara otomatis urapan-Nya pun ada dalam diri kita. Pengurapan Kerajaan Allah melegalkan kita untuk mengalami penyertaan Allah. Semua orang yang menerima pengurapan Kerajaan Allah adalah orang-orang yang sangat meyakini rhema tentang Imanuel, yaitu bahwa Allah menyertai kita. Mengapa Tuhan harus menyertai kita? Karena ketika kita memiliki pengurapan Roh Kudus, kita akan disertai Tuhan dan seharusnya tidak pernah kedapatan hidup sembarangan. Urapan tersebut membuat kita melakukan hal-hal yang mewakili tindakan Kerajaan Allah, yaitu membuat kita terbiasa melakukan pekerjaan baik. Urapan Allah membuat kita menjadi orang yang sangat sadar akan kebenaran, menyetujui kebenaran dan terbiasa memilih untuk melakukan pekerjaan baik. Perbuatan baik kita tidak menyelamatkan kita, tetapi kita diselamatkan karena pengorbanan kuasa darah Yesus sehingga kita legal untuk masuk Kerajaan Surga. Kita didesain untuk berbuat baik bukan agar masuk surga, melainkan karena kita telah diurapi oleh Roh Kerajaan itu dan wajar jika kita kedapatan berbuat baik. Hal tersebut berarti kedapatan tidak berbuat baik adalah sebuah ketidakwajaran sebagai orang Kristen. Perbuatan baik itu seperti magnet yang menarik orang lain untuk datang kepada kita, maka jika orang lain banyak menjauhi kita berarti kita belum kepenuhan urapan Allah. Tujuan perbuatan baik kita adalah supaya terang sang Raja bersinar bagi orang lain melalui kita. Orang baik adalah orang yang paling menghargai karya Kristus atasnya sehingga ia berusaha berbuat baik. Jadi, kita berbuat baik karena kita memiliki kuasa untuk berbuat baik.

Efesus 2:10 berkata “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita harus dilahirkan kembali agar dedikasi kehidupan kita adalah mengerjakan perbuatan baik yang untuk itu kita ditebus. Titus 1:16 berkata “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” Berbuat baik tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi perbendaharaan hal-hal baik itu diberikan secara terus-menerus kepada kita melalui urapan Allah dan membiasakan kita untuk berbuat baik. Tujuan terakhir dari perbuatan baik adalah agar kita mendekatkan orang lain kepada Kristus. Yesaya 1:17 berkata “belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Perbuatan baik harus dikerjakan agar membuat Tuhan lebih dikenal melalui kita, bukan demi dipuji oleh orang lain. Kegagalan kita dalam berbuat baik adalah kita tidak berkomitmen untuk tetap melakukan perbuatan baik, kita harus berani menginvestasikan kehidupan kita dalam kehidupan orang lain hingga Kristus benar-benar hadir dalam hidup mereka yang ditandai dengan terjadinya perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan mereka. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan, yaitu dengan pola pikir yang benar sesuai dengan Firman Allah. Tidak ada kejahatan yang bisa bertahan lama karena urapan Allah lebih dahsyat untuk membuat pekerjaan baik itu menang.

Urapan Allah membuat kita terbiasa untuk hidup berkemenangan. Mazmur 20:6 berkata “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Seorang dengan mental pemenang tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh bangun dalam dosa, tetapi selalu memiliki keputusan untuk selalu bangkit dan kokoh menjadi orang benar sehingga di akhir kehidupannya ia dikenal sebagai orang benar yang berkemenangan bukan pecundang. “Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”” (1 Samuel 17:32-37) Berdasarkan ayat tersebut, nyata bahwa seorang pemenang memiliki paradigma Kerajaan Allah, yaitu sangat meyakini bahwa kemenangan kita berasal dari Tuhan di setiap pencobaan demi pencobaan yang semakin berat. Orang takut jatuh karena tidak memiliki kerangka berpikir yang benar, semua orang yang mengetahui bahwa Allah beserta tidak akan menjadi seorang pengecut yang lari dari masalah melainkan ia akan berani menghadapi ‘medan pertempuran’.

                Kisah Rasul 1:8 berkata “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Urapan Allah diberikan kepada kita agar kita memiliki kuasa untuk menjadi martir, yaitu seseorang yang sangat mempertahankan prinsip dan berani mempertahankannya sehingga rela mengalami penderitaan bahkan kehilangan nyawa demi mempertahankan prinsip yang ia yakini.

Category

%d bloggers like this: