HEAVENOUS

The Power Of Sacrifice

Posted on: December 30, 2013

Ibrani 11:4

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.”

Shalom!

Mengapa korban Kain sering dibandingkan dengan korban Habel? Karena Kain hanya mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya, juga ia mempersembahkan korban dari hasil tanah yang sebelumnya telah dikutuk Tuhan sedangkan Habel mempersembahkan binatang sesuai teladan Tuhan ketika mendamaikan dosa Adam dan Hawa, yaitu mencurahkan darah binatang sehingga kulitnya dapat dijadikan pakaian bagi Adam dan Hawa. “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” (Kejadian 3:21) Kita tidak boleh mempersembahkan sesuatu yang buruk kepada Tuhan, baik secara sikap hati yang tidak rela maupun kualitas korban yang kita persembahkan tersebut. Perkenanan Tuhan terjadi ketika kita berkorban dengan sikap hati yang sungguh-sungguh memberikan korban yang terbaik kepada Tuhan meskipun dengan penuh jerih payah dan air mata. Marilah kita mempersembahkan korban yang terbaik bagi Tuhan (korban persembahan yang tidak mengandung unsur dosa) karena kita sudah berada di era ‘kedewasaan’, bukan lagi seorang yang kerdil rohaninya, maka mujizat yang kreatif pasti nyata dalam hidup kita! Berusahalah untuk menyenangkan hati Tuhan, meski kita tidak diperhitungkan oleh dunia namun Tuhan akan bertindak meninggikan kita ketika kita hidup berkenan di hadapan-Nya. “”Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ulangan 28:1-2) Berkat itu seperti sebuah kado yang kita terima karena hasil sebuah keintiman dengan Tuhan, yaitu pentahbisan oleh darah Yesus. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Rasul 4:12) Jangan cinta uang! Berkat yang sesungguhnya tidaklah hanya sebatas materi tetapi damai sejahtera Ilahi yang melampaui segala akal manusia dan kita seharusnya adalah orang yang paling bahagia di dunia ini sebab darah Kristus mengalir dalam diri kita, namun ingatlah kita harus mempergunakan berkat Tuhan untuk memberkati orang lain juga bukan dengan ketamakan.

Mengapa bangsa Israel ditentukan sebagai penentu sejarah dunia sehingga dijadikan sebagai tolak ukur kehidupan segala bangsa lain di bumi? Kita harus belajar Firman Tuhan secara detail bukan hanya sekilas saja agar kita tidak disesatkan oleh ajaran dunia yang ‘berbeda tipis’ dengan Firman Tuhan. “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” (Keluaran 1:13-14) “Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”” (Keluaran 16:2-3) Memang ketika diperbudak di Mesir (mengikuti sistem dunia), bangsa Israel penuh dengan kelimpahan secara jasmani namun jiwa mereka tertekan. Namun, ketika mereka keluar dari Mesir ke padang gurun, mereka dituntun Tuhan dengan Firman-Nya untuk menjadi umat yang excellent juga diberkati berlimpah-limpah dengan pemeliharaan Tuhan yang sempurna. Yesaya 30:20-21 berkata “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri.” Kekayaan adalah tolak ukur kesuksesan di mata dunia, namun Tuhan tidak menghendaki umat-Nya untuk cinta uang karena kemerdekaan jiwalah (ketenangan) yang menjadi kesuksesan sesungguhnya di mata Tuhan. Memasuki tahun baru ini, marilah kita memiliki paradigma yang baru pula sesuai dengan paradigma Tuhan, yaitu mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera meskipun hidup sederhana namun penuh sukacita.

Yosua 5:10 berkata “Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho.” Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel ‘dimanja’ (just enough blessing) oleh Tuhan (diberi benih untuk menabur) namun seiring dengan pertumbuhan kerohanian mereka…Tuhan mengajar mereka menjadi umat yang dewasa, yaitu dengan banyak menabur agar mereka menerima tuaian besar (more than enough blessing). Dalam tahap ini Tuhan menghendaki kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga memikirkan orang lain, yaitu memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi berkat bagi orang lain juga. Hendaklah kita memiliki hati yang berbelas kasih kepada mereka yang ‘terhilang’, setia beribadah dan mendoakan kesejahteraan orang lain, inilah korban yang berkenan kepada Tuhan. Milikilah mental pemberi bukan hanya mental penerima. Ketika kita menabur hal yang baik, maka keturunan kita pun akan menuai yang baik.

Category

%d bloggers like this: