HEAVENOUS

“TALITA KUM”

Posted on: October 21, 2013

Shalom!

Ketika kita menempatkan Tuhan Yesus diatas segalanya sesungguhnya kita sedang mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa Yesus adalah Tuhan. Masalah bukan akhir dari segalanya melainkan kesempatan untuk kita melihat mujizat Allah yang lebih besar sehingga dunia pun melihat kebesaran-Nya. Seorang pemenang akan meyakini bahwa Tuhan lebih besar dibanding segala masalah, dan bersama Yesus kita adalah lebih dari pemenang.

Markus 5:21-24,35-43 berkata “Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.”

Kita adalah garam dan terang dunia. Garam berfungsi di tengah keadaan yang membusuk sedangkan terang berfungsi dalam kegelapan, karenanya menginjillah! Penginjil bukanlah sebatas “jabatan”, tetapi itulah fungsi kita sebagai pembawa kabar baik bagi dunia. Percayalah bahwa kita pun akan mengalami “kebangkitan” dalam berbagai aspek kehidupan kita karena perkataan Yesus penuh kuasa membangkitkan kehidupan kita dari keterpurukan, mujizat masih ada! Mujizat terjadi ketika kita mengambil keputusan untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Hal yang harus kita lakukan untuk terima mujizat yaitu:

  1. Datanglah kepada Yesus dengan rendah hati dan apa adanya. Kita akan menemukan keindahan kehidupan melalui perbedaan, karena untuk berbahagia kita tidak perlu menjadi sama satu dengan yang lainnya tetapi terimalah satu sama lain dengan saling mengalah. Di dalam kesatuan ada mujizat Tuhan yang luar biasa.
  2. Sepakat. Matius 18:18-20 berkata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ketika ada kesepakatan antara suami istri, maka kesatuan bukan hanya akan dialami secara jasmani bahkan secara spiritual juga. Mezbah keluarga adalah hal yang penting untuk mempersatukan suami-istri dan kunci dari keluarga yang diberkati. Suami-istri haruslah sepakat sampai akhir hayat karena Tuhan hadir dalam kesepakatan umat-Nya.
  3. Selama bersama Yesus, mujizat selalu tersedia bagi kita!

Category

%d bloggers like this: