HEAVENOUS

The Man Of Destiny

Posted on: October 15, 2013

Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, [she didn’t consider her destiny] sangatlah dalam ia jatuh, tiada orang yang menghiburnya. “Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!” (Ratapan 1:9)

Kita harus punya tujuan akhir kehidupan yang jelas agar kita tidak salah melangkah dalam menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan. Jika kita tidak memiliki tujuan hidup yang jelas sejak muda, pasti kita akan rentan dengan segala gangguan sepele yang membuat kita tidak fokus dalam memilih yang benar dan menentukan prioritas kehidupan. Sebagai anak Allah, destiny kita adalah menjadi seorang mempelai Kristus yang kudus. Maka kita tidak boleh lagi berprinsip hidup ‘mengalir saja’ ataupun menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang belaka tanpa memikirkan akibatnya bagi kehidupan kita maupun orang lain.

God’s way will bring you to your life destiny, while your way will bring you to your life destruction. Tidak ada yang lebih baik daripada rancangan Tuhan yang telah disediakan bagi kita, karenanya kita harus menyatukan visi kita dengan visi-Nya. Filipi 3:13b-14 berkata “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, [I’ve got my eye on the goal] dan berlari-lari kepada tujuan [destiny] untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Your focus determines your reality –George Lucas. Fokuslah kepada Tuhan, bukan kepada dunia. Maka hidup kita pun akan berakhir di tangan Tuhan, bukan di tangan dunia. Hendaklah kita hidup bijak dengan tidak lagi bermain-main melakukan hal-hal yang tidak mendekatkan kita kepada destiny Ilahi. Kita harus perjuangkan destiny tersebut bagaimanapun keadaannya!

Jika kita belajar dari kehidupan Raja Salomo, the point is not how you begin your life but it’s about how you end your life (1 Raja-Raja 11:4,6). Kita harus menyegarkan diri kita kembali di hadirat Allah ketika kita sudah mulai tidak fokus kepada destiny Ilahi karena Allah akan menyadarkan kita bahwa identitas kita adalah anak-Nya yang harus mencapai destiny Ilahi di bumi sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh keduniawian semata.

Lukas 20:24-25 berkata ““Tunjukkanlah kepada-Ku suatu dinar; gambar dan tulisan siapakah ada padanya?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”” Kita diciptakan serupa gambar Allah sehingga diri kita memiliki ‘cap gambar Allah’, maka kita pun harus mengembalikan diri kita kepada Allah. Hindari kehancuran hidup kita dengan menjadi the man of God, not the man of world.

Category

%d bloggers like this: