HEAVENOUS

Mujizat Ayin Dalet Dengan Menjadi Imam, Raja Dan Nabi

Posted on: September 29, 2013

1 Petrus 2:9

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”

Shalom!

Menjadi Imam berarti kita layak masuk ke ruang maha kudus, menjadi raja berarti kita memiliki hak memerintah, sedangkan menjadi nabi berarti kita wajib memberitakan Firman Tuhan. Ayin adalah mata Tuhan sedangkan dalet adalah angka 4 yang berarti pintu, miskin di hadapan Allah, dan tanggung jawab.             Daniel 2:48 berkata “Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.” Di tahun ayin dalet, Allah akan memberikan promosi dan otoritas untuk memerintah di level yang lebih tinggi. Meskipun sekarang kita merasa ‘di bawah’, milikilah mental yang ‘di atas rata-rata’ karena setiap kita memiliki tujuan hidup untuk berfungsi sebagai imam, raja dan nabi. Belajarlah menggunakan otoritas Ilahi dengan mengatakan hal-hal yang positif atas semua hal yang negatif. Janganlah menjadi tinggi hati karena janji Allah akan masa depan kita, karena untuk mencapai semua itu memerlukan kerendahan hati dan proses sepanjang hidup kita.

Mikha 4:1-3 berkata “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.” Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.”

Mazmur 2:1-6 berkata “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: “Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!””

Di hari-hari terakhir, kita sebagai anak Tuhan akan diangkat ke level yang lebih tinggi tetapi ingatlah, bukan kita yang mengangkat diri sendiri. Hendaklah kita jangan menolak ‘pengangkatan’ Tuhan, karena menolak ketetapan Tuhan bukanlah suatu tindakan yang berhikmat. Tuhan akan mengangkat umat-Nya yang rendah hati, bukan umat yang tinggi hati karena kemampuannya sendiri. Naik ke level yang lebih tinggi memerlukan proses, tidaklah seketika setelah kita diurapi tetapi percayalah bahwa Tuhan setia menepati janji-Nya dalam hidup kita. Bermimpilah yang besar dan pantang menyerah karena tahun ayin dalet berbicara mengenai Tuhan yang menghendaki kita untuk memiliki otoritas memerintah seperti Dan, Yusuf, Daud, dan Daniel.

                 Melalui otoritas sebagai imam, kita dilayakan untuk masuk ruang maha kudus kapanpun karena darah Yesus yang telah melayakkan kita. Menjadi hebat (kaya, berprestasi, diberkati berlimpah) tidaklah salah asalkan hati kita tetap melekat kepada Tuhan. Kita diberi otoritas sebagai raja untuk memerintah dan diberkat menjadi kepala bukan ekor, namun jadilah raja yang melayani bukan selalu dilayani. Kuncinya adalah percaya akan setiap janji Tuhan bagi hidup kita; rela bayar harga melalui tindakan-tindakan iman kita demi mewujudkan tujuan Ilahi tersebut; tahan dalam setiap ujian dengan tetap bersyukur dan berpegang pada Firman Tuhan meskipun merugi; serta menerima pengurapan Tuhan. Urapan Tuhan memampukan kita melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan, yaitu mencapai tujuan Ilahi.

Category

%d bloggers like this: