HEAVENOUS

Menantikan Janji Tuhan

Posted on: September 19, 2013

tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)

Abraham adalah contoh orang yang menanti-nantikan Tuhan, selama 25 tahun ia tetap setia memegang janji Tuhan untuk memiliki anak.

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. (Kejadian 12:1-4)

 

Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kejadian 21:5)

 

Sikap yang patut diteladani dari Abraham dalam menanti-nantikan janji Tuhan digenapi dalam hidupnya, yaitu:

1)      Membangun mezbah bagi Tuhan karena inisiatif sendiri atas dasar cinta Tuhan, bukan karena hal lain atau terpaksa. Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. (Kejadian 12:7-8)

2)      Tidak serakah, melainkan rendah hati dengan mendahulukan kepentingan orang lain. Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” (Kejadian 12:8-9)

3)      Membangun iman percaya kepada Tuhan meski keadaan sepertinya mustahil. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.(Roma 4:18-21)

4)      Melakukan ‘sunat hati’ (‘membuang Haran’ –kehidupan lama Abram) sebelum Ishak dilahirkan, hal ini dimaksudkan Tuhan agar kita tetap rendah hati ketika kita diberkati berlimpah-limpah. Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. (Kejadian 17:23-24)

Bagaimanapun keadaannya, tetaplah percaya dan setia memegang janji Tuhan hingga digenapi dan menghasilkan buah dalam hidup kita!

Category

%d bloggers like this: