HEAVENOUS

Bertobat, Tinggal Tenang Dan Percaya

Posted on: September 19, 2013

Matius 8:23-27

“Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?””

Shalom!

Seringkali kita yang ‘sudah lama’ menjadi pengikut Tuhan Yesus masih saja gentar ketika mengalami pencobaan. Kejadian demi kejadian dalam hidup kita merupakan sebuah proses bagi kita untuk entering the next level. Lalu, bagaimana kita meresponi kejadian-kejadian yang mengharuskan kita harus memilih? Apakah kita masih tetap berpegang pada Firman Tuhan ataukah panic terhimpit oleh keadaan dan menggunakan hukum dunia untuk menyelamatkan diri? Hidup adalah pilihan. Tuhan bisa saja menjadikan semua manusia menjadi pengikut-Nya tetapi Ia ingin kita pun turut berpartisipasi dalam rencana-Nya denga setulus hati kita tanpa paksaan. Matius 7:24-25 berkata “”Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Jadi, sebesar apapun badai persoalan kehidupan menghadang kita, kita akan tetap teguh berdiri sebab pondasi kita adalah Kristus jika kita tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap persoalan kehidupan.

Mari kita belajar dari teladan Abraham dalam pengambilan keputusan yang bijak:

  1. Ketika berkonflik dengan sesama, Abraham memilih untuk mengalah. Abraham mempersilahkan Lot untuk memilih tempat yang ingin didiaminya sehingga Abraham mendapatkan tanah ‘sisa’. Dengan tamak Lot memilih apa yang bagus menurut pemandangannya sehingga ia terjatuh dalam pengaruh buruk kejahatan orang-orang di Sodom dan Gomora; sedangkan dengan tulus Abraham rela mengalah sehingga Tuhan pun memperhitungkan hal tersebut dan “Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” (Kejadian 13:14-15) Seorang ayah berperan sangat penting bagi kelangsungan kehidupan keluarga dan keturunannya. Keputusan salah yang kita ambil dimasa kini akan menghancurkan kehidupan keturunan-keturunan kita di masa depan. Karenanya, jadilah awal dari generasi orang benar dengan mengambil keputusan-keputusan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan meskipun mulanya terlihat tidak membahagiakan, namun percayalah bahwa Tuhan memperhatikan keturunan orang benar.
  2. Ketika berkonflik dengan diri sendiri, Abraham memilih untuk percaya dalam segala ketidakmungkinan di hidupnya. Kejadian 17:19 berkata “Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi Bapa. Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abraham sebagai kebenaran sehingga kemustahilan berubah menjadi berkat bagi hidup Abraham. Percayalah, mujizat masih ada! Tuhan mampu membuat mujizat dari yang sederhana hingga yang rumit, Tuhan tetaplah Tuhan yang sama dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya, Ia sanggup melakukan mujizat dalam kehidupan kita!
  3. Ketika berkonflik dengan Tuhan, Abraham memilih untuk taat. Kejadian 22:2 berkata “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”” Ketaatan berhubungan dengan pemberian, Abraham belajar memberikan yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk Tuhan. Sanggupkah kita memberikan apa yang paling kita cintai? “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24) Ketaatan membutuhkan pengorbanan, tetapi percayalah ketika kita memilih untuk melakukan yang benar pasti Ia akan memperhitungkan ketaatan kita dan melimpahkan berkat-Nya dalam kehidupan kita.

 

Bagaimana seandainya kita berada dalam konflik dan tidak dapat memilih? “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”” (Yesaya 30:15) Tidak ada orang Kristen yang boleh merasa dikuasai keadaan, karena keadaan ada dalam kuasa Allah –John Blanchard. Keluaran 14:13-14 berkata “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya, TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”” Jadi, Tuhan menghendaki kita untuk bertobat dan tinggal diam karena Tuhan yang mau berperang bagi kita. Mengapa kita harus tenang? “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17) Jika Tuhan yang hendak berperang bagi kita, bagian kita hanyalah diam dan tinggal tenang menyerahkan segalanya kepada Tuhan sebab hukum Allah mengalahkan hukum alam. “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” (Wahyu 3:8)

Category

%d bloggers like this: