HEAVENOUS

Prinsip Keuangan

Posted on: August 27, 2013

Shalom!

Prinsip keuangn yang sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah adalah:

  1. Jangan cinta uang (1 Timotius 6:7-10). Uang tidak jahat, namun cinta akan uang yang jahat. Cinta uang adalah mendedikasikan diri untuk memburu uang dengan berbagai cara sehingga berlaku seolah-olah tidak dapat hidup tanpa uang. Bapa dalam bahasa aslinya berarti ‘sumber’. Kita harus menjadikan Bapa surgawi sebagai tuan kita karena hanya Dialah sumber kehidupan kita. Cara terbaik agar kita tidak cinta uang yaitu mengasihi Kristus dan Firman-Nya serta menghargai kata ‘cukup’. Kita akan dikuasai oleh uang dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya ketika kita tidak menggantungkan kehidupan kita kepada ‘sang sumber’. 1 Timotius 6:6 berkata “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Kita akan mampu merasa ‘cukup’ ketika kita beribadah kepada Tuhan, ketika kita beribadah kepada-Nya maka kita akan mendapatkan keuntungan besar. Layanilah Tuhan dengan menjadi pengelola keuangan-Nya yang bijak. Belajarlah untuk hidup berkecukupan dan menghargai berkat Tuhan. “Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 19:21) Menjadi kaya tidaklah salah tetapi jika hati kita terikat pada kebendaan sehingga Kristus tidak menjadi prioritas utama dalam hidup kita, sulit untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Untuk melepaskan hati dari keterikatan cinta akan uang tidaklah sulit karena “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Matius 19:26) Cinta akan uang membuat kita sulit tinggal dalam kebenaran, jadi ambilah keputusan untuk berhenti cinta uang dengan lebih banyak memberi daripada menerima. Jangan tamak!
  2. Terbiasa dengan mental ‘diatas rata-rata’ dengan meyakini bahwa kecukupan kita adalah kelebihan bagi orang lain. Filipi 4:11 berkata “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kecukupan kita seharusnya menjadi kelebihan bagi orang lain. Ketika kita terbiasa hidup ‘cukup’ maka kita akan terbiasa untuk menyisihkan sebagian berkat kita bagi orang lain sehingga orang lain pun diberkati melalui kita. Hal ini bukan hanya sebuah prinsip tabur tuai semata tetapi lebih daripada itu, yaitu kita menghasilkan buah kehidupan. Jika kita tidak terbiasa berpikir ‘diatas rata-rata’, kehidupan kita akan mandek. Prinsip Kerajaan Surga mengenai keuangan adalah semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita akan menerima bukan berkekurangan. Kita ditentukan untuk suatu misi yang lebih besar di bumi ini, yaitu untuk memberi kehidupan kepada orang lain juga dibandingkan hanya mencukupi kebutuhan hidup kita semata. Reward yang Tuhan telah sediakan bagi kita kelak jauh melebihi segala pemberian kita selama di bumi. “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20) Hal yang membuat kita menjadi lebih bijak dalam menata keuangan kita adalah sampai kita memutuskan untuk belajar berpikir ‘diatas rata-rata’, yaitu dimana kita semakin berani menggunakan uang untuk berinvestasi bagi kehidupan orang lain maka kita akan semakin menghasilkan buah bagi kekekalan.
  3. Tidak menghalalkan ‘cara-cara yang praktis’ untuk menjadi cepat kaya. Amsal 13:11 berkata “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.” Perlu proses untuk  menjadi kaya, diperlukan integritas yang ekstrim (jujur, kerja keras, hidup bijak dalam hal keuangan) untuk menjadi kaya raya bukan karena cara-cara yang tidak jujur.

Category

%d bloggers like this: