HEAVENOUS

Kebenaran Tentang Keuangan

Posted on: August 27, 2013

Matius 25:14-30

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. … Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. … Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. …”

Shalom!

Tuhan tidak bisa disejajarkan dengan apapun dalam alam semesta ini karena Tuhan melebihi apapun tetapi dalam suatu perumpamaan, Tuhan membandingkan diri-Nya dengan mamon (uang). Menentukan definisi keuangan bagi diri kita membantu kita mengantisipasi kecenderungan untuk ‘menuhankan uang’.

Uang adalah secarik kertas dengan angka tertentu yang akan menjelaskan nilai apa yang kita anut. Kita bisa melihat nilai yang dianut orang lain berdasarkan caranya menilai uang. Fungsi terbesar dari uang adalah untuk memunculkan kemampuan kita supaya kita bisa menakar hal-hal dalam kehidupan dengan cara yang lebih seimbang dan dapat dipahami. Uang ada untuk kita bisa memahami bahwa hubungan baik antar sesama manusia lebih penting dari nilai uang tersebut. Ketika kita tidak mahir ‘menakar’nya maka akan muncul independent spirit (selfish) dan pencarian akan kepuasan diri. Sedangkan jika kita mahir ‘menakar’nya maka akan mewariskan perubahan dalam kehidupan manusia dan kehidupan sosial. Mereka yang mahir mengelola keuangan adalah orang yang terbiasa berpikir ‘diatas rata-rata’ bahwa uang yang dimiliki harus diinvestasikan untuk ‘merubah’ kehidupan orang lain.

Kita adalah penatalayanan uang yang Tuhan percayakan kepada kita, yaitu bahwa kita yang menguasai uang bukan dikuasai uang. Menata keuangan Tuhan berarti menempatkan keuangan-Nya pada posisi yang benar untuk kepentingan-Nya. Sesuai dengan Matius 25:21, hal keuangan adalah sebuah perkara kecil. Kita harus setia mengelolanya karena suatu saat nanti kita harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan.

Nilai-nilai yang harus dijadikan sebagai prinsip keuangan kita, yaitu:

  1. Kita adalah pengelola keuangan, bukan pemilik keuangan. Kita hanya seorang hamba yang dipercayakan Tuhan untuk mengelola keuangan-Nya. Kita melayani Tuhan melalui penataan keuangan yang baik agar mengalami pelipatgandaan sehingga Tuhan-lah yang diuntungkan melalui hal tersebut. Jadi kita tidak bisa mempergunakan uang Tuhan dengan sewenang-wenang.
  2. Roma 13:14 berkata “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Kita memang hidup di dunia tetapi kita bukan berasal dari dunia maka kita harus memutuskan untuk menyelaraskan kehidupan kita dengan prinsip Kerajaan Allah sehingga kita memiliki prioritas kehidupan yang benar, yaitu memfokuskan diri untuk mewujudkan keinginan Tuhan dengan uang yang Ia percayakan kepada kita bukan hanya mewujudkan keinginan kita sendiri. Filipi 3:18 berkata “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,” Ketika kita tidak hidup selaras dengan pikiran Kristus maka kita akan lebih mengutamakan kepentingan ‘perut’ kita dan dikuasai pola pikir duniawi yang berasumsi bahwa kita akan kaya jika kita semakin menyimpan uang tanpa menjadi berkat. “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20)
  3. Sesuai Matius 25:21, jika kita setia mengelola keuangan Tuhan maka kita akan menerima reward yang besar dari Tuhan. Percayalah bahwa jika kita menabur air mata maka kita akan menuai sukacita karena kita lebih mengutamakan kepentingan Tuhan melalui keuangan kita dibandingkan kepentingan diri kita sendiri.

Category

%d bloggers like this: