HEAVENOUS

Menaklukan 3 Raksasa

Posted on: August 13, 2013

“Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN. … Dan Kaleb menghalau dari sana ketiga orang Enak, yakni Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak.” (Yosua 14:12; Yosua 15:14)

Tuhan menetapkan kehidupan kita untuk semakin naik, bukan semakin turun. Jadi siapakah ‘raksasa’ yang harus kita taklukan dalam kehidupan kita agar kehidupan kita semakin diberkati Tuhan?

  1. Diri sendiri. “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami. Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” (Bilangan 13:33; Bilangan 14:1-2) Mindset yang menganggap masalah lebih besar dari diri sendiri sehingga bersungut-sungut ketika mengalami pencobaan hanya akan menghalangi berkat Tuhan. Lalu bagaimana menaklukan diri kita sendiri agar tidak bersungut-sungut? 1 Tesalonika 5:18 berkata “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Persembahan yang terbaik bagi Tuhan adalah diri kita sendiri. Dengan mengorbankan diri sendiri (perasaan, logika, dll) melalui ucapan syukur ditengah pencobaan berarti kita sedang menaklukan diri sendiri sehingga diri kita memiliki ‘value’ di hadapan Tuhan. Ketika kita mengucap syukur ditengah pencobaan, disaat itulah atmosfir rohani kita berubah dan mempengaruhi atmosfir jasmani dari keadaan yang buruk menjadi baik. “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.” (Mazmur 30:12-13) 1 Samuel 7:12 berkata “Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” Membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain hanya membuat kita tidak pernah puas dan sulit mengucap syukur. Berhentilah untuk terus ‘menganggap rumput tetangga lebih baik’ tetapi belajarlah menemukan ‘Eben-Haezer’mu dan mengucap syukurlah kepada Tuhan atasnya!
  2. “Gaza telah menjadi gundul, Askelon telah menjadi bungkam; hai Asdod, sisa orang Enak, berapa lama lagi engkau menoreh-noreh diri?” (Yeremia 47:5) Orang Enak berbicara tentang roh keduniawian, yaitu roh mamon (cinta uang). Matius 6:24 berkata “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Mamon berasal dari kata ‘mamonas’ yang berarti dia yang bisa kita andalkan. Sebagai ‘tuan’, Tuhan membandingkan diri-Nya dengan mamon karena setelah kejatuhannya akibat ingin disembah seperti Allah, iblis berkuasa di bumi melalui mamon. Maka dari itu, mamon dapat menjadi sebuah ‘spirit’ ketika kita tidak memiliki sikap yang benar dalam mengelolanya. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5) Ciri seseorang yang terikat dengan roh mamon ini adalah minder. Lalu, bagaimana kita menaklukan roh mamon dalam diri kita? Yaitu dengan disiplin dalam menggunakan uang dengan tidak bersikap konsumtif atau berlebihan tetapi bersikaplah bersahaja dan tidak suka pamer karena toh kita sudah sangat dicintai oleh Tuhan Yesus, jadi nilai diri (value) kita tergantung dari berharganya nilai darah Yesus yang telah tercurah untuk menebus kita bukan dari harta benda tertentu. Kita adalah hamba Tuhan, bukan hamba uang. Ciri orang yang banyak memprioritaskan Tuhan adalah berani mengalah demi terciptanya damai sejahtera Ilahi meskipun merugi. Hal ini hanya dapat dilakukan jika kita kepenuhan Roh Kudus. Upah bagi hamba-Nya yang tidak cinta uang yaitu “Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” (Kejadian 26:13) Kata ‘kaya’ dalam terjemahan lain menunjuk kepada kualitas diri yang semakin baik (great), asset yang semakin bertambah, menjadi sangat terhormat dan terkenal, juga kapasitas dan pengaruh yang semakin diperbesar.
  3. Bilangan 13:33 berkata “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” Roh ketakutan/kekuatiran adalah raksasa besar dalam diri kita yang mampu mengubah seorang pemenang menjadi pecundang. Tetaplah berfokus kepada Tuhan ditengah pencobaan sehingga atmosfir Ilahi tetap melingkupi kehidupan kita, karena berfokus kepada masalah hanya akan menimbulkan atmosfir ketakutan/kekuatiran. “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”” (Matius 14:27) Percayalah bahwa Firman Tuhan tidak pernah gagal karena Firman Tuhan mengundang kuasa Allah dalam kehidupan kita. Perkataan Yesus akan menutup pintu neraka dan membuka pintu surga bagi kehidupan kita. Karenanya, taklukan ketakutan/kekuatiran dalam diri kita dengan kuasa Firman iman, yaitu iman yang muncul karena memperkatakan Firman Tuhan sehingga iman tersebut akan menjadi benteng Ilahi yang melindungi kita dari panah api si jahat (menggagalkan ketakutan/kekuatiran). Ingat, iman tak dibatasi oleh kekuatan manusia. “Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”” (Roma 10:8-11)

Category

%d bloggers like this: