HEAVENOUS

Family Is On War

Posted on: June 4, 2013

A family is Heaven on Earth. Kehancuran keluarga menjadikan representasi Kerajaan Allah di muka bumi hilang. Jika masing-masing anggota keluarga dapat berfungsi dengan tepat di rumah, tentulah para anggota keluarga dapat melihat sebuah kabar baik melalui kehidupan keluarganya. Berikut adalah hal yang menjadi kewajiban masing-masing anggota keluarga sesuai peranannya, yaitu:

SUAMI

  1. Seorang suami wajib mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dasarnya dan mampu memenuhinya sesuai dengan Firman Tuhan agar kebutuhan istri dan anak dapat ia penuhi. “But if anyone does not provide for his own, and especially for those of his household, he has denied the faith and is worse than an unbeliever.” (1 Timotius 5:8 –NKJV). Umumnya seorang pria butuh pengakuan akan kehebatannya sehingga berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menunjukan siapa dirinya (membeli gadget terbaru, memenuhi hobinya secara ekstrim bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga untuk menegaskan ‘siapa kepala rumah tangganya’, serta marah-marah untuk menutupi kesalahannya karena tidak terima dirinya disalahkan dan malah membuat istrinya merasa bersalah). Namun, jika seorang suami memiliki gambar diri yang benar dengan meyakini kebenaran bahwa ia berharga di mata Tuhan juga Tuhan mengasihi dan menerimanya tanpa syarat, maka pengakuan dari Tuhan tersebut adalah cukup baginya sehingga ia tidak perlu lagi menuntut pengakuan dari orang lain dan secara natural istrinya pun akan menghormati suaminya tanpa perlu dipaksa. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:33) Ketika seorang suami bisa menerima dirinya sendiri tanpa syarat, maka secara natural ia pun akan bisa menerima istrinya sendiri apa adanya. Kolose 3:21 berkata “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Seorang bapa berfungsi untuk memberikan destiny (tujuan hidup) dan dignity (martabat) kepada anaknya. Menyakiti hati anak berarti meruntuhkan keyakinan anak akan dirinya sendiri sehingga anak menjadi tawar hati, yaitu bermain di ‘daerah abu-abu’ (tidak menyukai tekanan dan apapun yang ia kerjakan pasti berhenti di tengah jalan/tidak tuntas). Mungkin sebagian besar para suami merasa masalah ‘selesai’ setelah meluapkan amarahnya terhadap anak, tetapi bagi anak masalah tersebut ‘tidak selesai begitu saja’, ada akar kepahitan di hati anak setelah menerima perlakuan tidak bertanggung jawab dari orang tuanya. 1 Petrus 3:7 berkata “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” Banyak pria menjadi arogan karena Firman Tuhan berkata bahwa istri hendaklah menghormati suaminya. Namun, ketahuilah bahwa salah satu kebutuhan istri adalah juga dihormati. Sebagai seorang suami, Anda harus mempertanggungjawabkan iman Anda kepada Tuhan kelak. So man, what’s your really need? Are you the true believer?
  2. Kristus adalah ‘kepala’ seorang suami. 1 Korintus 11:3 berkata Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Seorang suami adalah kepala rumah tangga yang menjadi penentu baik/tidaknya ‘tubuh’ (istri dan anak) dalam rumah tangganya. Ketika istri dan anak Anda tidak melihat Anda seperti Kristus, berarti Anda bukan seorang laki-laki. Karenanya, ‘gantilah’ kepala Anda dengan Kristus, hai para suami! Begitu juga dengan seorang istri, jika cerminan suaminya tidak terlihat di ‘kepala’nya berarti ia bukan seorang perempuan. Kepala Kristus adalah Allah, karenanya Kristus sangatlah Allah. Hal ini terbukti dengan pernyataan Tuhan Yesus Kristus bahwa Anak tidak akan melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Bapa. Jadi, Kristus adalah gambaran sempurna dari Allah. Ketika orang lain melihat Anda, apakah mereka seperti melihat Kristus? Jika tidak, hal inilah yang membuat istri dan anak Anda kehilangan respek terhadap Anda. Menjadi seorang pria adalah bukan karena kelahiran semata, tetapi itu adalah sebuah pilihan. Para suami telah didesain bahwa kepalanya adalah Kristus. Anda disebut sebagai pria jika orang lain melihat bahwa kepala Anda adalah Kristus. Ketika Anda bercermin dan mengatakan bahwa ‘saya harus menjadi seorang pria’ berarti Anda sedang memutuskan untuk menjadikan Kristus sebagai kepala Anda. Gantilah kepala Anda dengan Kristus dan jadilah pria sejati agar anak-anak lelaki Anda pun menjadi seorang pria sejati ketika melihat Anda sebagai gambaran Kristus.
  3. Efesus 5:25 berkata Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Menyerahkan diri berarti rela berkorban demi keuntungan pasangan Anda. Seorang istri akan merasa terhormat dan dikasihi jika melihat suaminya rela berkorban baginya. Seorang bijak berkata bahwa seorang suami yang ingin menjadi raja di rumahnya harus tahu bagaimana memperlakukan istrinya sebagai seorang ratu, dengan demikian seorang istri akan secara natural menjadikan suaminya sebagai rajanya.
  4. “Para suami, kasihilah istri dan janganlah membuat kepahitan terhadap mereka.” (Kolose 3:19 –MILT) Seorang suami harus bertanggung jawab dalam perkataan, sikap dan reaksinya terhadap istri. Anda bukan seorang pelayan Tuhan meskipun Anda melayani namun melanggar perintah Tuhan. Jika Anda berlaku kasar terhadap istri Anda, tentulah Anda tidak akan mewarisi kehidupan dan doa Anda pun terhalang. Ketika Anda berperan sebagaimana seharusnya seorang suami berperan dalam rumah tangganya, yakinlah bahwa Anda pasti menjadi seorang yang sangat diinginkan dan dihormati dalam keluarga Anda.

ISTRI

Titus 2:3-5 berkata Demikian juga perempuan-perempuan yang tua [tua dalam artian usia yang sudah berumur atau banyak pengalaman meskipun belum cukup berumur], hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur [mabuk oleh keduniawian], tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Standar kualitas kehidupan seorang istri adalah agar Firman Allah jangan dihujat orang. Jadi, orang lain harus melihat Firman Allah melalui kualitas kehidupan seorang istri. Jika tidak, perempuan tersebut sedang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Karenanya, sebagai istri..Anda harus memutuskan untuk terbiasa hidup sebagai orang yang beribadah, yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Kristus dan kebenaran-Nya. Jika secara tidak langsung Anda telah ‘mencelakakan’ orang lain dengan tidak memiliki kehidupan yang berkualitas sehingga orang lain menghujat Firman Allah, maka Anda pun tak akan cakap untuk mengajar orang lain tentang kehidupan yang berkualitas. Perhatikanlah pernyataan Maria (ibunda Tuhan Yesus): “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38) Menjadi seorang perempuan yang beribadah dimulai dari sebuah keputusan untuk menjadi hamba Kristus. Jika seorang istri terbiasa taat kepada Tuhan yang tidak kelihatan, maka tentulah ia akan dengan mudah menjadi taat kepada suaminya. Tidak memerlukan kefasihan berbicara untuk menjadi seorang wanita yang cakap, tetapi dibutuhkan kecakapan tindakan untuk menjadi seorang istri yang berkualitas dan membuat orang lain pun hidup bijak. Ladies, life speaks more than words. Jagalah kehidupanmu sedemikian rupa karena Allah memanggilmu sebagai seorang istri, ibu dan pengajar bagi orang lain. Sadarilah bahwa istri adalah penopang keluarga, jika seorang istri goyah maka keluarganya pun akan goyah dan orang lain pun bisa dicelakakan melalui kehidupan seorang istri yang tidak bertanggung jawab.

Pria diurapi Tuhan untuk menjadi seorang decision maker dalam rumah tangganya, apapun yang ia lakukan akan berdampak kepada kehidupan istri dan anaknya; sedangkan wanita diurapi Allah untuk menjadi seorang yang memberikan pengaruh baik kepada suami, anak dan orang lain. Setelah mengetahui kebenaran tersebut, hendaklah kita saling memotivasi keluarga kita untuk mewujudkan representasi Kerajaan Allah di muka bumi, bukan saling menghakimi. Tuhan Yesus memberkati.

Category

%d bloggers like this: