HEAVENOUS

Love & Commitment

Posted on: April 29, 2013

1 Korintus 16:23

“Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu. Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus.”

Shalom!

Komitmen adalah keberanian kita untuk dengan sadar mengikatkan diri dengan janji untuk menjaga hubungan cinta sampai masa depan. Tidak ada batas waktu akan sebuah komitmen, batasannya adalah masa depan (selamanya –tanpa periode tertentu).

Tuhan mempertahankan komitmen-Nya untuk terus mencintai kita sampai beribu-ribu keturunan tanpa terpengaruh oleh perubahan dunia, prinsip dalam komitmen cinta adalah “perubahan boleh terjadi, tetapi komitmen harus dipertahankan”.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan untuk mempertahankan komitmen cinta sampai kekekalan adalah:

  1. Kehadiran adalah obat bagi segala penyakit cinta (loneliness ­–merasa kesepian ditengah-tengah keramaian). Cinta diekspresikan dengan menyertai/menemani/ikut ambil bagian seorang akan yang lain dengan menyelami pola pikir orang tersebut (empati). Itulah sebabnya Tuhan disebut sebagai Allah Immanuel, karena Tuhan bersedia hadir dalam kehidupan kita agar kita tidak sendirian menghadapi kehidupan ini. Tuhan ingin agar kita meyakini bahwa Ia selalu menyertai kita bagaimanapun keadaan kita. Kehadiran berperan penting dalam mempertahankan cinta dari sekarang hingga kekekalan kelak. Roma 12:15 berkata “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  Titik masalah dari penyakit cinta adalah hal yang penting bagi kita menjadi hal yang tidak penting bagi orang lain sehingga kita merasa tidak diperhatikan. Miskomunikasi menyebabkan kita merasa tidak memiliki seseorang yang ‘seperasaan’ dengan kita. Jadi, belajarlah untuk ‘masuk’ ke dunia orang yang kita cintai.
  2. Asumsi (prasangka berdasarkan perkiraan) adalah ‘rayap’ bagi hubungan. Prinsip, nilai dan asumsi mengendalikan kehidupan. Semua orang yang tidak terbiasa membangun kehidupannya berdasarkan prinsip dan nilai, namun hanya asumsi saja..sedang mencelakakan dirinya sendiri. Ketika kita ‘berasumsi dengan Tuhan’, maka dengan mudah kita pun akan ‘berasumsi kepada manusia’. Adalah lebih baik untuk membangun hubungan yang baik melalui komunikasi yang jelas dengan pasangan kita daripada hidup dengan ‘perasaan’ yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
  3. Menjadi konsisten untuk mencintai dan bersedia ‘repot’ untuk mempertahankan komitmen cinta sebab tidak ada hubungan yang tidak merepotkan kita. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” (Yohanes 14:21) Cinta harus diukur dengan prinsip kebenaran, kita tidak boleh membiarkan perubahan perasaan untuk membunuh konsistensi komitmen cinta kita dalam sebuah hubungan.

Category

%d bloggers like this: