HEAVENOUS

Sempurna

Posted on: April 16, 2013

Shalom!

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Matius 7:11) Adalah suatu hal yang wajar jika Tuhan memberi perintah untuk kita mengasihi orang lain karena Tuhan sendiri adalah kasih.

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48) Jika kita mengatakan ‘tidak mungkin untuk menjadi sempurna’, maka sia-sialah kepercayaan kita kepada Kristus. Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.“” (Markus 10:27) Segala sesuatu tidak mustahil ketika kita mengandalkan Tuhan dan mempercayai Firman-Nya.

Kunci untuk menjadi sempurna adalah kembali kepada hukum yang pertama dan terutama, yaitu Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Matius 22:37-38) Dasar untuk menjadi sempurna adalah kasih, sebab itu Tuhan menegur jemaat di Efesus karena mereka telah meninggalkan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu2:4-5). Ketika kita hidup dengan bergantung kepada kasih Allah, maka tidak ada yang mustahil untuk menjadi sempurna. Sebaliknya, apapun yang kita lakukan tanpa kasih akan menjadi sia-sia.

Untuk mencapai target Tuhan (entering to the next level), kita harus memiliki kasih mula-mula kepada-Nya. Jangan sampai kita undur dari kasih tersebut ketika kita sudah diberkati/naik level karena kasih mula-mula kepada Tuhan adalah hal yang paling mendasar dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.

Ingat, kita lebih dari pemenang karena Kristus telah menang atas maut melalui kebangkitan-Nya, jadi kita hanya tinggal mengikuti jejak-Nya untuk menjadi seorang “pemenang”; tetap taat meskipun kita tidak mengerti perintah-Nya.

Mengapa Tuhan menghendaki supaya kita menjadi sempurna seperti Dia?

  1. Karena Tuhan telah menciptakan kita sempurna. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, citra diri kita dikembalikan menjadi sempurna dan kita telah dikuduskan bagi-Nya. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:22) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibrani 10:14)
  2. Agar para ‘pahlawan iman’ mencapai kesempurnaan juga. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” (Ibrani 11:40) Sempurna bukanlah suatu hal yang ‘jika dilakukan berpahala, jika tidak dilakukan pun tidak apa-apa’. Sempurna itu kewajiban.

Kunci untuk menjadi sempurna, yaitu:

  1. Jangan “terikat” dengan sesuatu apapun di bumi ini. 1 Yohanes 3:16 berkata Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Ciri utama jika kita berani mengorbankan nyawa untuk orang lain, yaitu tetap melayani/beribadah kepada Tuhan bagaimanapun keadaannya (hujan, sakit, dll) dan tidak menyayangkan nyawa kita untuk memberitakan Injil.
  2. Jangan menjadi serupa dengan dunia ini. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna(Roma 12:2) Jangan puas dengan menjadi seorang ‘Kristen yang baik’ atau menjadi ‘Kristen yang berkenan kepada Allah’, tetapi usahakanlah agar kita mencapai target Tuhan, yaitu menjadi seorang ‘Kristen yang sempurna’. Kata “berubah” dalam ayat tersebut mengindikasikan bahwa ada satu keinginan dari diri kita sendiri untuk bangkit dan mengizinkan Tuhan ‘menginfuskan’ sifat-sifat keilahian-Nya ke dalam diri kita. Jadi, kita harus menjadi pribadi yang mau diubahkan Tuhan, bukan menjadi seorang pribadi yang tegar tengkuk. Kuncinya adalah kasih.
  3. Menjadi satu (unity). Yohanes 17:23 berkata Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Kita bisa sempurna menjadi satu jika Tuhan Yesus dan Allah Bapa menyatu di dalam diri kita, yaitu dengan berfokus kepada Kristus bukan lagi kepada diri sendiri. Unity dengan orang lain memang sulit karena banyak kekurangan yang dimiliki satu sama lain sehingga kita merasa ‘tidak klop’ dengan mereka. Hendaklah kita belajar untuk tidak melihat ‘mereka di masa kini’ tetapi lihatlah ‘mereka di masa depan’ sebagai pribadi yang mau berubah menjadi lebih baik.

Belajar dari wanita Samaria yang hidupnya diubahkan setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, seperti itu juga kita. Ketika kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus, kita sebagai seorang pribadi dengan ‘citra diri negatif’ di hadapan orang-orang sekitar sehingga mereka tidak mempercayai kita, mampu menyatakan Kristus dalam hidup mereka sehingga paradigma mereka tentang kita pun berubah menjadi seorang pribadi dengan ‘citra diri positif’ meskipun kita belum sempurna. Tuhan Yesus memberkati.

Category

%d bloggers like this: