HEAVENOUS

Kunci Pernikahan Dalam Kristus

Posted on: May 24, 2011

Kejadian 2:23-25 – “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Shalom!

Ayat 23 menyatakan bahwa begitu indah pernikahan itu sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Adam bisa mengatakan tentang Hawa “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Kata ‘tulang dari tulangku’ melambangkan sesuatu yang buruk dan sedangkan ‘daging dari dagingku’ melambangkan sesuatu yang baik, keduanya masing-masing menunjukan bagian yang terdalam dari tubuh. Hal ini berarti sewaktu Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa pun, pernikahan mereka diwarnai dengan kebahagiaan dan juga konflik. Namun, Adam tetap bisa mengatakan bahwa Hawa adalah perempuan yang terbaik baginya. Ini karena, pernikahan mereka diliputi kasih yang dari Tuhan sehingga meskipun mereka mengalami konflik, tetapi mereka selalu dapat melihat hal yang indah dari pasangannya dan mampu menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi. Konflik dalam sebuah pernikahan itu wajar, yang harus Anda mengerti adalah bagaimana memandang konflik tersebut dan menyikapinya.

Pernikahan itu suatu hal yang indah dalam Tuhan. Ironisnya, pernikahan menjadi suatu malapetaka setelah kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Adam pun tak lagi mengatakan hal yang indah kepada Hawa, melainkan menyalahkannya seperti tertulis dalam Kejadian 3:12 “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kini, betapa kehidupan pasangan suami-istri setelah menikah itu berubah total dibandingkan ketika mereka masih berpacaran. Perlu Anda ketahui, bahwa pernikahan tidak hanya dilandasi oleh dasar saling cinta tetapi juga komitmen untuk menjaga cinta itu di dalam kasih Kristus. Sebelum menikah, kuatkan komitmen Anda untuk tetapi mengasihi pasangan Anda apapun yang akan terjadi kelak. Pernikahan tidak terjadi karena ‘kecocokan’ saja (misalnya Anda dan pasangan sama-sama memiliki makanan favorit yang sama) karena yang perlu Anda perhatikan adalah akan ada banyak ketidakcocokan yang terjadi kelak dalam pernikahan karena perbedaan latar belakang. Oleh karena itu, perlu adanya komitmen yang kuat untuk menjaga pernikahan tersebut.

Keselarasan dalam pernikahan tejadi jika masing-masing anggota keluarga berfungsi dengan baik. Suami sebagai kepala rumah tangga disebut sebagai seorang lelaki sejati ketika dia mampu membuktikan janjinya kepada istri dan anak-anaknya. The true man is the promise holder. Gambaran suami yang baik dapat tercermin dari wajah istrinya yang memancarkan kebaikan pula karena istri adalah cerminan suami. Kebanyakan, setelah memiliki anak, suami dan istri lebih mengutamakan anak-anak mereka. Padahal, dalam Kristus, struktur yang benar adalah (1) mengasihi Tuhan, (2) mengasihi suami-istri, barulah (3) mengasihi anak-anak. Milikilah waktu khusus berdua dengan pasangan Anda, rencanakan dan luangkan waktu untuk menghabiskan satu hari hanya berdua dengan pasangan Anda secara rutin tiap minggunya. Hal ini bertujuan untuk tetap ‘meneguhkan’ cinta suami-istri. Juga belajarlah untuk selalu tersenyum kepada siapapun juga dan mengatakan kata-kata yang manis dan indah kepada pasangan Anda secara tulus (tidak dibuat-buat).

Kunci dari sebuah pernikahan yang bahagia adalah komunikasi yang baik. Suami-istri tidak hanya melakukan komunikasi secara eksternal (dengan anak-anak sewaktu makan/kumpul keluarga) tetapi juga harus memiliki komunikasi internal (hanya berdua membicarakan perasaan masing-masing). Perlu adanya keterbukaan dalam komunikasi seperti ditegaskan dalam ayat 25 bahwa tidak ada yang ditersembunyi dari masing-masing pasangan suami-istri. Jika terjadi konflik, belajarlah untuk saling mendengarkan pembicaraan masing-masing dengan seksama, tanpa memotong pembicaraan pasangan. Kemudian berbicaralah secara bergantian, setelah itu renungkan hasil pembicaraan masing-masing dan selesaikan konflik tersebut dengan hikmat Tuhan.

Mintalah agar Tuhan memulihkan kehidupan Anda dan keluarga Anda. Ingatlah, keterbukaan awal dari pemulihan. Tuhan Yesus memberkati.

Category

%d bloggers like this: