HEAVENOUS

Mistakes Are OK-able (Kesalahan adalah hal yang OK juga)

Posted on: March 12, 2011

Dalam hal ini adalah kesalahan yang jujur, tak disengaja dan tak direncanakan.

Nobody’s perfect (Mzm 37:23-24)

Kesalahan adalah hal yang biasa jadi tidak perlu dibesar-besarkan/diperumit. Kesalahan adalah konsekuensi logis untuk apa yang kita lakukan.

Kita harus siap jatuh!

Orang-orang sukses bukan karena tak pernah gagal tapi karena kegagalan yang mereka alami tidak bisa menghentikan langkah mereka menuju kesuksesan itu. Mereka menjadi orang yang sukses dibidangnya karena mereka pernah gagal dibidangnya.

Yang menyebabkan tidak sukses adalah menyerah, sedangkan kegagalan adalah benih kesuksesan.

Tuhan tak pernah menyerah dengan kehidupan manusia. Dia selalu punya rencana lain (plan B) untuk kebaikan kita ketika rencana yang satu (plan A) gagal. Tuhan tak pernah putus asa dan panik dengan kegagalan kita. Dia selalu fleksibel dan siap mengatasi segala kemungkinan. Oleh karena itu, kita jangan jadi orang Kristen yang kaku dan menganggap kegagalan sebagai vonis yang fatal (aib) dalam hidup kita. Jangan malu dengan daftar kegagalan kita.

Kamu bukanlah satu-satunya orang yang paling gagal di dunia jadi ga usah malu  atau menyerah dalam kegagalan yang kamu buat. Kamu tak sendiri dalam hal itu! Orang lain pun pernah seperti itu dan Tuhan tetap beserta kamu. Kegagalan tak bisa dihindari tapi bisa diresponi dengan baik.

Orang yang sukses itu:

  1. Selalu memiliki kemauan untuk bangkit lagi dan tidak mau larut dalam keluhan dan menyalahkan situasi atau orang lain. Dia berani bangkit untuk mulai lagi dengan cara yang lebih baik.
  2. Akan mencoba kembali dengan cara yang berbeda dan belajar dari kesalahan yang lalu. Kegagalan akan berubah menjadi kesuksesan jika kita belajar dari kegagalan itu dan mendapatkan pencerahan.
  3. Tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang lalu (jatuh dalam hal yang sama dengan orang yang sama)
  4. Menyadari pentingnya dukungan pihak lain (Tuhan dan sesama)

Bobot kesalahan tak menentukan apa-apa (bukan masalah) tetapi sikap/respon kita setelah kegagalan itulah yang menentukan hidup kita.

Kesuksesan tidak pernah final dan kegagalan tidak pernah fatal kecuali jika kamu menyerah.

Kegagalan itu sifatnya sementara, masih bisa diperbaiki, dipulihkan dan direstore. Tetapi kegagalan fatal bersifat permanen yaitu ketika kita menyerah.

Belajarlah dari Paulus yang meskipun hidupnya tak nyaman (1 Kor 4:11, 2 Kor 11:23-27) tapi tetap mengatakan hidupnya luar biasa bersama Tuhan – kesaksiannya (2 Kor 2:14a). Dalam kesusahannya, dia tidak menggerutu tetapi tetap merenungkan Firman Tuhan dan menanti yang Tuhan inginkan dalam hidupnya, karena baginya itu adalah suatu kemenangan (ketika dia lemah, kuasa Tuhan semakin sempurna berkarya di dalam dirinya).

Belajarlah melihat kegagalan dari sisi positifnya (lihat dari banyak sisi, jangan dari satu sisi saja) dan jangan alergi dengan kegagalan. Tak perlu emosi dengan kegagalan tapi hadapilah dengan sabar, tekun dan carilah peluang lain karena ada suatu berkat/manfaat besar yang ternyata kita tidak sadari (tidak lihat) di balik kegagalan tersebut (tetapi Tuhan melihat hal itu). Terimalah kekalahan tanpa harus jadi orang yang kalah. Anggap saja kegagalan itu investasi pembelajaran kita.

Category